Rekan Pebisnis Cellular Yth,
Perkenankanlah pada kesempatan ini saya akan sedikit melakukan evaluasi tentang perjalanan kita dalam berjuang melawan kebijakan provider yang tidak banyak berpihak pada pedagang menengah kebawah. Melalui berbagai artikel, saya telah tegaskan bahwa saya yakin rekan – rekan semua sebenarnya juga merasa terbebani oleh adanya clusterisasi.
Kita semua memiliki pengalaman dan kebijakan tersendiri didalam menanggapi atau melawan clusterisasi. Jadi maaf terus terang saya membela rekan – rekan kita yang selama ini tidak ikut demo yang selalu diruduh tidak komitment oleh para mereka yang melakukan perjuangan dengan aksi turun ke jalan. Saya yakin rekan – rekan yang kelihatanya diam itu sebenarnya juga sudah berjuang keras melawan clusterisasi melalui cara lain yang dirasa lebih efektif.
Suatu hal yang harus kita sadari, terutama yang melakukan perjuangan dengan banyak membawa nuansa emosional adalah mudahnya menuduh pihak lain tidak komitment dan sangat disayangkan bahwa mereka berjuang mati – matian namun kenyataanya tidak siap untuk mengisi paska dihapuskannya atau dilonggarkanya kebijakan clusterisasi itu. Hal ini dapat kita lihat dulu ketika diterapkan Clusterisasi XL, banyak diantara kita turun kejalan, setelah XL longgar, kini saat Telkomsel menerapkan Clusterisasi banyak diantara kita berteriak – teriak lagi. Seharusnya kita mengambil hikmah dari kebijakan clusterisasi XL.
Seharusnya Clusterisasi XL dulu membuat kita lebih siap dan lebih kuat dalam menghadapi setiap kebijakan provider. Kalaulah ternyata itu belum membuat kita kuat, maka mari kita niatkan untuk Clusterisasi Telkomsel kali ini harus membuat kita lebih kuat sehingga dimasa mendatang kalau provider kecil lainya menerapkan Clusterisasi kita tidak akan merasa dipusingkan lagi.
Berjuang menuntut kebijakan Clusterisasi dibubarkan itu Harus Siap untuk membuat kebijakan baru agar Bisnis kita kuat. Karena mau maju atau mundur bisnis kita semua tergantung manajemen kita sendiri. Tapi dalam kenyataannya banyak diantara mereka yang gagal selalu menyalahkan faktor external sebagai biang keladi kegagalannya.
