Bisnis itu unik, maka mengelolanya bikin asyik. Bisnis itu penuh tantangan, maka mengelolanya sangat menyenangkan. Hemmm… tidak berlebihan kan kata – kata saya ini. Anda pasti tertarik untuk segera memulai bisnis. Ayoo.. buruan. Nunggu apa lagi, keburu tua loh nanti. Hehehe…
Dalam pengelolaan usaha banyak yang merasa takut dengan adanya rival atau saingan. Terutama mereka yang tidak memiliki iman yang kuat. Banyak tindakan antisipasi yang berlebihan sampai – sampai menggunakan jalan pintas dengan memohon pertolongan dari sesuatu yang bertentangan dengan norma agama.
Orang yang berpandangan sempit selalu menganggap usaha ini sebagai sesuatu yang harus dimenangkan dan orang lain dikalahkan. Sedangkan orang yang berpandangan luas berfikiran bahwa menang itu tidak harus mengalahkan. Menang itu relatif. Kita dikatakan menang ketika kita bisa menyentuh target yang kita tentukan sebelumnya.
Orang yang tidak beriman menganggap saingan itu sebagai suatu momok yang harus dienyahkan, sedangkan orang yang beriman menganggap saingan sebagai teman untuk membangkitkan motivasi kerja. Hal ini dapat kita kaji dengan berkendara jarak jauh. Ketika kita berkendara sendirian, tidak ada orang lain kita cenderung berkendara biasa – biasa saja. Tidak banyak motivasi. Namun akan berbeda ketika kita mendapati orang lain yang berkendara relative sama cepatnya dengan kita. Bergantian bisa salip menyalip, itu jelas akan membangkitkan adrenalin kita. Perjalanan jadi penuh motivasi dan terasa sangat menyenangkan.
Begitulah bisnis. Kalau mau terasa asyik dan mudah menjalankannya anggap saja seperti kita berkendara. Anda sudah buktikan dalam berkendara sehari – hari bahwa dibelakang itu tidak selamanya kalah. Dalam perjalanan ketika kita mendapati saingan, sesekali mendekati jalan yang ramai atau lampu merah kita disalip. Tapi justru dengan berada dibelakang kita bisa melihat celah lain yang bisa kita manfaatkan. Alhasil saat lampu hijau kita bisa menyalip rival kita.
Prinsip berkendara seperti di atas bisa kita aplikasikan ketika harus merespon suatu kebijakan atau sesuatu yang mengharuskan kita membuat kebijakan baru. Sesekali tidak ada salahnya kita menunggu dan melihat apa yang akan dilakukan rival kita ketika sama – sama harus menyeberangi sungai tanpa jembatan. Disitu kita bisa mengamati cara mereka menyeberang. Selanjutnya kita bsa sedikit mencontek namun tentunya dimodifikasi biar walau startnya belakangan sampainya kita duluan.
Pada kesempatan lain saya sering mangatakan kepada rekan – rekan baik saat tatap muka langsung maupun lewat media online bahwa kita bisa belajar banyak dari rival. Kita bisa memodifikasi strategi yang diterapkan rival dan juga bisa mengamati sejauh mana kekuatan keuangan dari rivalitas.
Bahkan dengan melihat cara promosi, baik melalui brosur dan sales rivalitas kita bisa memperkirakan kondisi keuangan dan talenta kerja yang ada pada struktur organisasi usaha rival kita itu. Dimana kita dapati kelemahan pada sistem rival, disitulah tempat kita yang harus kita kuatkan. Karena titik – titik kelemahan itulah yang harus kita lakukan penetrasi secara maksimal untuk memenangkan persaingan jika itu memang harus dimenangkan.

Amazing!