Pada materi kali ini anggap saja ini murni sebuah wacana. Bukan merupakan sharing pengalaman dari saya pribadi mengingat saya saja saat menulis buku ini belum menikah apalagi memiliki anak tentu saja belum. Hehehe… Berbicara masalah pendidikan rasanya tidak akan ada habisnya. Mulai dari biaya, strategi dan masih banyak lagi.
Disini saya akan mengungkap bentuk keingkaran kita terhadap suatu strategi pendidikan yang ada sejak ribuan tahun. Wuih… kayaknya sok ilmuwan banget neh Kazzu…. Ayo senyum dulu donk. Baca dulu bismillahirrokhmanirrokhiim sebelum menerima ilmu baru. Hehehe…
Seorang profesor atau ahli strategi pendidikan yang menciptakan kurikulum untuk mengajar bahasa, belum tentu lebih pintar dari seorang bapak atau ibu yang sama sekali tidak berpendidikan dalam hal mengajar bahasa. Orang pintar mengajar cenderung menggunakan strategi yang rumit. Sedangkan orang yang relative dikatakan bodoh cenderung mengajar dengan cara yang sederhana saja.
Mengenai persentase keberhasilan antara orang pintar yang mengajar dengan kurikulum yang rumit dibandingkan orang yang mengajar tanpa kurikulum jelas lebih berhasil yang tanpa kurikulum. Ini saya rasa sudah harga mati. Tidak perlu diteliti. Cukup langsung diakui saja kebenaranya. Kalau ada yang tidak setuju silahkan tinggal membantah saja. Piss Men…wukwikw… dalam konteks apa neh….Buktinya hayo buktinya…!!!
Sekarang Alkhamdulillahirobbil’alamiin saya bisa bicara, anda juga bisa bicara. Dulu waktu masih bayi kita diajari cara ngomong tanpa menggunakan kurikulum loh. Kita diajari mulai dari kata – kata yang paling mudah diucapkan. Ketika kita belum bisa mengucapkan dengan benar, ucapan salah pun dibenarkan sehingga kita termotivasi untuk terus belajar.
Coba bayangkan kalau saat bayi cara mengajar ngomong menggunakan kurikulum yang mensyaratkan pemahaman tata bahasa, kita malah tidak akan bisa ngomong. Trus kalau belajar jawaban harus selalu benar, maka kita akan menjadi takut. Hal ini aya rasakan sangat berkebalikan pada saat kita belajar bahasa asing di sekolah. Mau belajar bahasa inggris lebih ke penekanan pengertian tata bahasa, bukan penekanan keberanian untuk mencoba. Ya hasilnya otak capek untuk mengingat – ingat tata bahasanya. Bukan untuk mencoba dan menghafalkan kata – kata.
Tata bahasa kan mengatur struktur antar kata dalam penyusunan kalimat. Nah kalau kata – kata yang mau disusun saja tidak ada lantas mau menata apa? Apa mungkin bisa menyusun kalimat yang benar jika kata – kata atau komponen yang mau ditata saja tidak ada. Ini logika sangat sederhana pak, namun sangat jarang yang memahaminya.
Uraian di atas merupakan bentuk pemahaman betapa pentingnya kita memberikan akses kebebasan yang cukup bagi anak – anak untuk mengembangkan bakatnya. Aturan yang terlalu ketat tidak jarang malah akan membuat seorang anak merasa terbelenggu. Akan menimbulkan tekanan batin yang berujung pada ketidakpercayaan pada dirinya sendiri. Namun aturan yang terlalu longgar juga bisa berakibat fatal. Karena aturan yang terlalu longgar dapat dikatakan bukan aturan.
Ketat longgarnya suatu aturan terhadap anak itu bisa disesuaikan dengan melihat kepribadian dari anak tersebut. Sebagai bahan referensi seperti apa sifat anak anda, maka kenalilah sifat anda dan sifat istri anda sendiri. Karena bagaimanapun juga sifat seorang anak tidak akan jauh berbeda dengan sifat orang tuanya. Bisa dominan mengikuti sifat bapaknya, bisa dominan mengikuti sifat ibunya dan bisa juga peleburan dari sifat kedua orang tuanya.
Prinsipnya harus ada yang disegani anak diantara bapak atau ibunya. Kalau sampai keduanya tidak memiliki wibawa dimata anaknya maka yang terjadi anak akan cenderung tidak memiliki sopan santun. Disini perlu dipahami bahwa disegani itu bukan berarti lantas galak atau serem. Orang yang bisa disegani itu juga tetap bisa akrab, bisa bercanda tawa, bisa mendengar dan bisa juga bertindak seperti teman.
Selanjutnya pendidikan yang diberikan kepada seorang anak sebaiknya dilakukan dengan menggunakan konsep Islam. Yaitu pertama kali tanamkanlah tentang akidah dan akhlak. Dengan akidah yang baik akan menjamin kepribadian seorang anak menjadi kuat dan tidak mudah putus asa. Akhlak yang bagus akan menjamin kehormatan dirinya dan keluarganya semasa hidupnya. Untuk pengetahuan lain bisa disesuaikan seiring dengan pertumbuhan seorang anak. Usahakan orang tua benar – benar bisa memahami apa bakat anaknya sehingga bisa memberikan pendidikan atau jalur pendidikan yang benar – benar sesuai dengan bakat anak.
Bersekolah tidak sesuai dengan bakat juga bisa pandai, namun dalam kenyataanya seseorang akan lebih merasa nyaman dan bahagia ketika bisa menguasai ilmu dan akhirnya juga bisa bekerja sesuai dengan hobi yang dimilikinya. Ingat bahwa pekerjaan yang paling bagus itu adalah yang sesuai dengan kemampuan, bukan pekerjaan yang terlalu banyak membelenggu perkembangan otak kita.
Hal – hal yang tidak boleh dilakukan didepan anak diantaranya adalah bertengkar atau cek – cok suami istri, berkata yang kotor, berbuat yang tidak sopan seperti kentut yang dibunyikan keras ( dibuat – buat ), dan juga berpenampilan yang tidak sewajarnya. Karena semua itu akan terekam kedalam memori anak yang akhirnya akan digunakanya sebagai bahan referensi untuk menghadapi suatu permasalahan selama hidupnya nanti.
Diluar perilaku orang tua, termasuk yang harus diperhatikan adalah pemberian hiburan. Hiburan permainan yang tidak tepat dan hiburan televisi juga sangat perdampak pada pembentukan kepribadian anak. Sudah kita ketahui bersama kalau nilai pesan moral dari sinetron Indonesia sangat rendah. Ceritanya hanya itu – itu saja hanya sedikit pengeditan. Acara sinetron cenderung banyak negativenya. Karena mempertotonkan banyak adegan yang tidak layak ditonton anak – anak maupun orang dewasa. Diantaranya adalah adegan perkelahian. Masih SD sudah diajari untuk berkelahi, untuk saling memusuhi, rebutan harta, rebutan pacar dan sebagainya yang mana kesemuanya itu adalah penggiringan ke budaya materialistis.
Membahas masalah pendidikan untuk anak rasanya tak pernah ada habisnya. Karena mendidik anak pada dasarnya adalah mempersiapkan generasi masa depan. Sedikit saya bagi pengetahuan, saya sebelumnya pernah membaca suatu artikel tentang bagaimana di Israel menyiapkan generasi muda. Disana sudah sangat dipahami bahwa generasi muda adalah tumpuan masa depan bangsa. Makanya sebisa mungkin dipersiapkan baik – baik pendidikanya. Sejak masih dalam kandungan sudah dilatih. Caranya dengan menghindari amarah antara kedua orang tuanya dan sang ibu rajin membaca – baca buku. Sehingga kalau Istrinya mengandung disana sang suami rajin membeli buku yang kalau ditanya untuk anaknya. Padahal anaknya masih dalam kandungan. Itulah yang harus dicontoh dari bangsa Israel.
