Dalam Islam sudah dijalaskan bahw Rizki, jodoh dan umur kita sudah ditentukan Allah Swt, namun perlu dipahami disini bahwa usaha kita juga sangat menentukan hasilnya. Jadi tidak ada istilah untuk bermalas – malasan. Ketentuan penetapan rizki, umur, dan jodoh itu adalah untuk kita gunakan sebagai acuan kembali disaat kita sudah tidak mampu lagi agar terhindar dari keputusasaan.

 

Bagi orang yang beriman, ketentuan ketetapan itu bukan halangan apalagi alasan untuk bermalas – malasan, namun malah sebagai motivasi untuk bekerja dan beribadah lebih giat lagi. Mengapa? Orang yang beriman akan selalu penasaran, sebenarnya Allah Swt itu memberi kita rizki sampai seberapa kaya kita, akan memberi jodoh kita seperti apa dan akan memberi kita umur berapa? Itu adalah pertanyaan yang mengandung teka – teki yang hanya Allah Swt saja yang mengetahuinya.

 

Nah, tugas kita adalah memecahkan masalah itu. Kita harus bekerja keras untuk mengetahui sampai seberapa kaya kita hidup didunia ini. Kita harus berusaha mencari jodoh kita, berusaha untuk setia dengan orang yang kita cintai untuk membuktikan jodoh kita sebenarnya dia bukan ya. Trus kita juga harus giat beribadah untuk membuktikan bahwa kita adalah orang yang pandai bersyukur.

 

Jika dalam belajar kita gagal meraih gelar tertentu, dalam bekerja kita gagal mencapai target tertentu dan dalam mencintai seseorang ternyata akhirnya yang menjadi suami / istri kita bukan orang yang selama ini kita kejar – kejar, bolehkah lantas kita berputusasa? Tidak. Masih ada pertanyaan lagi yang harus dipecahkan jika memang kenyataanya itu yang terjadi. Apa itu? Pertanyaanya adalah “Mengapa Allah Swt memberikan itu, bukan yang selama ini kita dambakan, apa kelebihan dari yang Allah Swt berikan dibandingkan dengan yang selama ini kita idam – idamkan?” pertanyaan itu akan terjawab dengan tuntas jika kita tidak berputus asa. Dikemudian hari barulah kita akan memahami betapa Allah Swt Maha Bijaksana.

 

Dalam menanggapi dan menafsirkan ketetapan Allah Swt saya sendiri memiliki pandangan bahwa antara rizki, jodoh dan kematian itu ada ketetapan tetapi ada perbedaanya. Kalau tentang umur mungkin memang sudah harga mati. Misalkan kita sudah diberi jatah umur 58 tahun. Ini tidak bisa ditawar lagi. Namun untuk rizki dan jodoh mungkin saja Allah memberikan kita jatah sekian. Dimana untuk rizki nilai sekian itu adalah nilai maksimal. Dalam aplikasinya dikehidupan tidak semua orang bisa mencapai jatah rizki yang Allah Swt berikan secara keseluruhan. Hanya mereka yang giat bekerja, belajar dan tidak putus asa yang bisa menggapai maksimal. Sedangkan mereka yang ogah – ogahan hanya mendapatkan sedikit. Padahal Allah Swt sudah menyediakan lebih, salah siapa ogah – ogahan sehingga mendapatkan sedikit.

 

Untuk jodoh saya rasa hampir sama dengan rizki. Saya rasa Allah Swt sudah menyediakan kita lebih dari 1 pilihan. Namun kadang kita tidak bisa mendapatkan yang paling baik karena kita sendiri kurang menjaga diri kita. Allah Swt itu pasti akan mempertemukan kita dengan yang baik jika kita baik. Kalau kita nakal ya akan dipertemukan dengan yang nakal pula. Intinya kita akan dipertemukan dengan yang kepribadiannya kurang lebih sama dengan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*