Pada artikel kali ini sengaja saya membahas juga masalah percintaan. Saya rasa ini sangat penting karena setiap orang memiliki rasa cinta. Baik kepada suatu benda, pada diri sendiri, pada sang kholiq, pada suatu kegiatan atau lawan jenis.
Nah dalam kenyataanya sering kali seseorang lebih merasa cepat stress jika mengalami masalah cinta. Jika mengalami masalah dipekerjaan atau bisnisnya mungkin tidak akan cepat down. Namun jika masalah yang dialami adalah masalah cinta, terutama pada lain jenis cenderung akan membuat seseorang cepat down. Hal ini wajar karena masalah cinta memang menyedot perasaan jauh lebih besar dibandingkan masalah lain.
Pada bab ini akan anda temui kata – kata motivasi dan ungkapan perasaan yang berhubungan dengan prinsip berhubungan dengan orang lain. Termasuk hubungan asmara anak muda, hubungan sebagai suami – istri dan hubungan sosial kemasyarakatan.
Dengan membaca artikel pada karya tulis ini kami harapkan kita semua akan lebih kuat mentalnya. Baik mental bisnis maupun mental dalam hal hubungan percintaan.
Pengertian Cinta Sejati
Cinta sejati itu adalah cinta yang dijiwai oleh cinta kepada sang Kholiq. Cinta yang tidak dilandasi iman bukanlah cinta sejati dan ML sebelum nikah juga bukanlah termasuk dari cinta sejati. ML sebelum nikah menunjukkan cinta yang dikendarai nafsu. Meski ikhlas, tetap saja nafsu.
Dalam pergaulan sehari – hari sering kita mengenal istilah cinta sejati dan cinta monyet. Cinta monyet adalah cinta yang dilakukan oleh mereka yang masih remaja. Biasanya merupakan cinta pertama. Namun tidak sering juga sampai cinta ke sekian kalinya.
Oke dalam kesempatan ini saya akan sedkit memberikan pandangan tentang bagaimana seharusnya kita menjalin hubungan cinta. Pertama kita harus paham bahwa cinta sejati itu hanya milik Allah swt. Untuk itu sudah selayaknya cinta kita kepada makhluk tidak melebihi cinta kita kepada Allah Swt.
Jangan sampai gara – gara kita menjalin hubungan asmara malah membuat kita semakin lepas kontrol. Jangan sampai karena menjalin hubungan asmara lantas semakin membuat kita semakin jauh dari norma agama dan jangan sampai karena cinta kita menjadi lebih dekat dengan perbuatan keji dan kejahatan.
Pacaran sendiri dalam Islam tidak ada. Namun pacaran sudah begitu memasyarakat. Untuk itu kita wajib memiliki prinsip dalam asmara. Kita harus bisa memaknainya secara bijaksana. Kita harus memiliki planing masa depan yang jelas. Jadikan masa – masa menjalin hubungan hati untuk memastikan kecocokan dengan pasangan. Yaitu dengan banyak melakukan diskusi tentang berbagai masalah yang ada disekitar kita.
Menjalin hubungan asmara yang baik adalah yang dilandasi Iman kepada Allah Swt. Cinta tanpa dasar iman yang kuat maka yang didapat hanyalah kepuasan sesaat. Bukan kebahagiaan. Bahkan tidak jarang yang didapat adalah rasa penyesalan, sakit hati dan keputusasaan.
Mari rencanakan masa depan dengan matang. Kita buat planing akan seperti apa keluarga dan anak – anak kita dimasa depan. Semua kita mulai dari saat kita mengenal calon pasangan kita. Saat menjalin asmara, perbanyaklah berdiskusi tentang problematika rumah tangga. Agar nantinya jika sudah menikah sudah tidak kaget lagi dengan permasalahan yang akan timbul.
Dalam kehidupan sehari – hari, sudah dikonsep sedemikian saja kadang hasilnya berbeda, apalagi kalau sama sekali tidak memiliki konsep yang jelas…????
Beberapa prinsip yang saya yakin kita semua setuju adalah bahwa jika kita berani jatuh cinta ya harus berani jika sewaktu – waktu harus sakit hati dan jika berani jatuh cinta ya harus mau membuat planing mau kemana hubungan asmara itu kita arahkan. Tanpa tujuan yang jelas maka yang umumnya terjadi hubungan asmara akan banyak melenceng dari norma agama.
Seperti apapun kekasih atau pasangan kita, mari sikapi secara positive. Mari kita jadikan cinta dan kasih sayang sebagai bahan motivasi untuk menggapai hari esok yang lebih bahagia. Jadikan sebagai motivasi untuk lebih giat bekerja, beribadah dan berbuat baik pada sesama makhlukNya.
Hemhemhem… terus terang nie agak malu saya. Sok hebat memberikan motivasi tentang cinta, padahal sampai pada saat tulisan ini saya buat saya belum menikah. Jadi masih banyak hal – hal disini yang belum saya alami sendiri. Saya menulis berdasarkan suasana hati dan pengamatan lingkungan. Termasuk melakukan renungan setelah melihat hal – hal yang terjadi pada rumah tangga orang lain.
